Start Aksi dating gersang

Aksi dating gersang

Anak bersekolah sampai tamat sarjana Mencari kerja mendapat kerja melanjutkan hidup Pertanyaannya tidak surut dari tabiatnya Apa lagi?

) Inilah catatan kaki kasih yang diajarkan pitarah Kasih tidak memikirkan untung Kasih tidak menuntut jasa Kasih tidak mencari nama Kasih tidak menghitung Kasih tidak berpihak Kasih tidak cemburu Kasih tidak gelojoh Kasih tidak khianat Kasih tidak sombong Kasih tidak bohong Tapi Kasih itu tulus ikhlas Kasih itu lemah lembut Kasih itu rendah hati Kasih itu penyerahan Kasih itu tawakal Kasih itu pemaaf Kasih itu eling Kasih itu jujur Kasih itu takwa Kasih itu iba (!

Instead, it plunges forward with made self-enrichment at the expense of the rest of country, even the rest of the world.” Ini tahun aku pergi ke mana dibawa kata hati Mumpung raga terasa kuat jiwa terasa sehat Mencari tempat untuk menyiram budi Di gunung, mata air kehidupan Apa untungnya megah di kota penuh wisesa Tapi batin melompang kehilangan pijar Maka kutinggalkan kota yang siangnya memanjang Oleh lampu-lampu neon ribuan watt Dipasang berjuta mengganti matari Dan benderangnya membuat aku terasing Déjà vu di antara kakerlak wirok nyamuk Siapa bias karib di keindahan semu Membayangkan kota ini pada 2222 Jika kini aku menjadi paling skeptic Masihkah pohon tumbuh di Lapangan Merdeka Sedangkan di Pondok Labu tak tumbuh labu Di Pondok Cabe tak tumbuh cabe Di Pondok Kopi tiada kopi Di Utan Kayu, Kebon Sirih, Sawah Besar, Rawa Bening Hanya tumbuh tembok disepanjang pematang hot-mix Dikuasai bangsa manusia yang kini jadi sebangsa macan Kota telah membuatkan seperti mesin fotokopi Mengulang-ulang hari dengan rasa yang sama Saban keluar rumah pikiran liar Stress dikalksoni oto-oto ban radial velg racing Knalpot megafon yang keluarkan asap pedas Dipekaki tape yang dilengkapi amplifier Meraung-raung antara rock dan dangdut Berpacu sinting, zig-zag, ugal-ugalan Menuruti etika binatang: the survival of the fittest Jika satu menit lepas dari traffic-jam sialan Di arteri sana macet lagi memusingkan kepala Yang dibutuhkan orang di kota ini Bukan aspirin tapi obat sakit gila Mauku sekarang mendaki segala gunung negri ini Melihat telanjangnya sepi Menulis puisi cantiknya edelweiss Garidanya murai dan pilunya terukur Sembari menyanyikan madah Sepi adalah guru untuk merenung Tapi orang mengerti isyarat alam Hidup hari ini menentukan hidup hari esok Yang tidak menabur tidak mengambil bagian memetik Aku mau bersusah-susah di fana kini Supaya tidak ditolak dibaka nanti.

I Kumulai pendakian di Gunung Tampulon Anjing Menjulang 2008 utara Sipirok, Sumut Aku jumpa suhu yang bicara perkara buku Dan kubuka mata kupasang telinga silakan masuk “Paling utama,” katanya.

“punya buku Jangan bilang bangsamu berbudaya tinggi Kalau kau tidak p[ernah tahu pentingnya buku Yang membedakan manusia dengan hewan Bukan sandang Bukan pangan Bukan papan Tapi buku Manusia pakai baju hewan pun pakai bulu Manusia cari makan hewan pun cari makan Manusia punya rumah hewan pun punya sarang Tapi manusia punya buku hewan tak punya buku Mengaku manusia tapi tak pernah punya buku harga dirimu hewan Maka miliki buku dan baca Simak kekuatan yang tersirat dalam puisi Kalau kau bisa membaca tapi tidak membaca puisi Kau baru bebas buta huruf tapi tidak bebas membaca.” “Buku bagi orang yang bebas membaca Adalah air bagi suatu tanah kebun Jangan biarkan dirimu jadi tanah gersang Lantaran air tidak mengalir atasmu Membuat tumbuhan tidak hasilkan buah Jika sawah kehabisan air Mungkin sawah berubah jadi lading Tapi jika hujan tak turun atas lading Dan beruntung padi masih hidup di situ Bagaimana jika dating wereng rusaki daunnya Dan batang pipit habis buahnya Lalu tikus geregoti batangnya Kemudian mati mereka bersama Karena kehausan disitu Bukankah lahanmu jadi sia-sia Makin lama makin terlantar Menumpang semak dan putri malu?

Jika ada binatang yang besok kesitu Hanyalah belalang yang salah terbang Terbawa kencang putting beliung Lalu lusa ia mati karena kehausan.” “berpalinglah kau dari kebiasaan bangsa Yang asyik sibuk perkara-perkara besar Seraya lupa pada perkara yang lebih penting Buku tidak sebesar harga cincin berlian Tidak juga sebesar harga oto buatan Jerman Tapi ia menjadi besar dalam harga diri dan harkat Yang membedakan manusia dengan hewan Kalau kau mau tidak dikecilkan Ikatkan cincin percintaan harga diri lewat buku Dan baca segala puisi pujian Mazmur buat Sang Khalik Nyanyikan hormat tembusi awan di langit Dan benturi dasar laut di samudra Kau pasti tidak pernah kehausan.” II Lalu beralih aku ke Gunung Pangrango Menjulang 3019 barat Cipanas Jabar Aku jumpa suhu yang bicara perkara 5W (Wibawa, Wanita, Wisma, Wahana, dan Wang) Dan kubuka mata kupasang telinga “Yang kesatu bagi lelaki,” katanya, “adalah wibawa Seorang lelaki mesti memiliki sinar dan wibawa Yang tumbuh dari batin Dan dipelihara oleh nurani Agar tahu ia harga kesuamian dan keayahannya Menyangkal diri adalah karunia pertama Memedulikan kepentingan orang lain Menyusul kedua yang bersendi pada jiwa Ia harus tegas tapi jangan keras Ia harus lunak tapi jangan lembek Ia harus perkasa tapi jangan perkosa Ia harus rendah tapi jangan direndahkan Ia harus cerdik tapi jangan licik Ia harus alim tapi jangan lalim Ia boleh lekas tak percaya tapi jangan lekas curiga.” “Yang kedua bagi lelaki,” katanya, “adalah wanita Seorang lelaki mesti memiliki wanita dalam hidupnya Agar ia sempurna menghayati kejantanannya Wanita bagi seorang lelaki adalah ilham Untuk mengenal keseungguhan dan ketekunan Untuk melatih kecermatan dan kesabaran Yang membangkitkan gairah Yang menggairahkan jiwa-raga Wanita memberinya arti tentang cinta Cinta memberinya arti tentang anak Anak memberinya arti tentang wilayah Tuhan Tuhan memberinya arti tentang hidup kekal.” “Yang ketiga bagi lelaki, “adalah wisma Seorang lelaki mesti memiliki tempat tinggal Di mana ia membangun keluarga dan cinta kasih Jangan lihat wisma dari bangunan sosoknya Tapi periksa wisma dari cirri-ciri sisiknya Pada intinya sebagai tempat tinggal Karena rumah yang kokoh pun pada saatnya akan binasa Kayu-kayunya diparani rayap atau ngengat Atapnya bocor atau dindingnya retak Namun cinta kasih yang dibangun di dalamnya Berlanjut turun-temurun dalam tutur kata bestari Sebagai benang-benang tawarikh perdamaian Wisma adalah tempat tinggal Dan juga tempat meninggal Meninggalkan orang-orang terkasih Ayah, ibu, mertua, istri, anak, dan cucu Kau butuh tempat tinggal selama di dunia Untuk belajar mengetahui betapa mestinya Kau butuh tempat tinggal selama-lamanya di surge Ajarkan itu kepada manusia, he lelaki.” “Yang keempat bagi lelaki,” katanya, “adalah wahana Seorang lelaki harus punya kendaraan Supaya ia tidak melulu diam didalam wismanya Siapa yang tak pernah keluar dari tempat tinggal Tak punya kesempatan melihat dirinya Diantara orang-orang lain di luar dirinya Maka itu, keluarlah, nikmati tamasya Lihat kenyataan akan adamu Dalam adanya dunia Di situ hadir Tuhan Wahana dapat membawa rindumu Ke mana kau suka Tapi pergilah tidak sendiri Sebab wahana juga tempat kau membina keluarga Sebab wahana juga melatihmu arti kebersamaan Dalam wahana kau lihat orang lain Dalam wahana kau sadar kau bukan sendiri Di luarnya ada orang lain yang sama pentingnya Jika kau tidak melihat kenyataan Kau mengabaikan dirimu sendiri Inilah perkara wahana yang mesti kau camkan Bahwa kecelakaan lalu lintas di sekitarmu Bukan sebab kesalahan wahana Tapi kesalahan tidak melihat kenyataan Adanya orang lain-lain diluar dirinya Kalau kau punya wahana Jangan wahana membuatmu sebagai Caligula Mempermainkan nyawa orang atas selera biadab Tapi seperti wahana lahir dari suatu peradaban Tempatkan dirimu sebagai bagian yang menentukan adab.” “Yang kelima bagi lelaki,” katanya, “adalah wang” Seorang lelaki mesti memiliki harta Supaya ia tidak gampang dipermainkan dendam Seperti selalu miskin mendendami kaya Carilah wang sebanyak-banyaknya dengan cara bertahap Dan jangan dengan cara mendadak Sebab dalam bertahap kau berputar bersama waktu Dan dalam mendadak kau memperkosa jalannya waktu Tanpa wang kau tak kenal arti memiliki Betapapun yang kau miliki itu sementara Dan tidak menyertai jisim di liang lahat Jangan percaya kemiskinan dapat melahirkan ilham Malah kemiskinan dapat membuat orang jahanam Ilham yang tulen justru lahir dalam kecukupan Sebab ilham yang tulen membawa kebajikan Dan ilham yang palsu membawa keonaran Semakin banyak wangmusemakin mudah jalanmu Tapi jangan lupa alpa member perpuluhmu Member derma member zakat Membantu yang miskin Menolong yang susah Adalah hikmah perdana kebijaksanaan Wang dapat mengubah perangai Siapa punya wang punya kuasa Kuasa dapat memaksa Kuasa dapat membujuk Kuasa dapat menyeleweng Kuasa dapat sewenang-wenang Tapi kuasa tak kuasa ajal Jangan wang mengubahmu jadi menyembah wang Sebab betapa gampang wang berubah jadi berhala Jika wang memberhala, batinmu pun miskin pahala Kalau kau tak berhasil mendapat wang sebanyak-banyaknya Setidaknya dengan yang kecil pun kau eling Dan bersyukur sebagai rezeki dari Tuhanmu.” III Lalu beralih aku ke Gunung Slamet Menjulang 3428 timur Bumi Ayu Jateng Aku jumpa suhu yang bicara perkara 5 SK (Senang Kawin, Senang Kelakar, Senang Kibul, Senang Kongkalikong, Senang Korupsi) Dan kubuka mata kupasang telinga silakan masuk.

At many financial firms, about half of all revenue is allocated to compensation, and multi-million-dollar bonuses are routinely paid out to ensure the best talent stay put.

Top traders and bankers on wall street typically make a base salary of about $250.000, with the rest coming as a bonus.

That advice, however, does not seems to have been followed.